π‘²π’†π’•π’Šπ’Œπ’‚ π‘¨π’”π’‘π’Šπ’“π’‚π’”π’Š π‘΄π’†π’π’†π’Žπ’–π’Œπ’‚π’ π‘±π’‚π’π’‚π’π’π’šπ’‚. 𝑹𝒆𝒔𝒆𝒔 𝑨𝒓𝒍𝒐𝒏 π‘½π’†π’“π’Šπ’”π’•π’ 𝒅𝒂𝒏 𝑯𝒂𝒓𝒂𝒑𝒂𝒏 π‘Ύπ’‚π’“π’ˆπ’‚ 𝑩𝒂𝒕𝒖 π‘¨π’‹π’Š

 



BATAM — Demokrasi sering kali diukur dari seberapa ramai ruang politik dipenuhi suara. Padahal, ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh suara itu benar-benar didengar. Di sanalah reses menemukan maknanya: bukan sebagai kewajiban administratif, melainkan sebagai ruang perjumpaan antara harapan masyarakat dan tanggung jawab wakil rakyat.


Kamis (30/7/2026) malam, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Batam dari Fraksi NasDem, Arlon Veristo, melaksanakan reses Masa Persidangan III Tahun 2026 di RW 20 Perumahan Merlion Square, Kelurahan Tanjung Uncang, Kecamatan Batu Aji. Pertemuan yang diawali dengan doa bersama itu berlangsung hangat, sederhana, namun penuh makna.


Warga, tokoh masyarakat, serta pengurus RT dan RW hadir membawa persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Bukan persoalan yang jauh dari kehidupan, melainkan yang paling dekat: fasilitas umum, drainase, ruang bersama, dan lingkungan tempat mereka membangun masa depan.


Ketua RW 20, Saparin, menyampaikan apresiasi atas realisasi dua usulan yang sebelumnya telah diajukan melalui forum reses, yakni revitalisasi Gedung Serbaguna dan semenisasi halaman Posyandu. Baginya, itu menjadi bukti bahwa dialog antara masyarakat dan wakil rakyat dapat menghasilkan perubahan yang nyata.


Namun harapan tidak berhenti pada apa yang telah terwujud. Warga kembali mengusulkan pemasangan spandek di halaman Gedung Serbaguna RT 02 serta perbaikan drainase di RT 03 yang semakin menyempit dan sebagian telah runtuh.


Menanggapi berbagai usulan tersebut, Arlon Veristo menegaskan bahwa reses adalah momentum penting untuk mendengar secara langsung kebutuhan masyarakat dan memastikan setiap aspirasi mendapat ruang dalam proses pengambilan kebijakan.


“Reses ini menjadi ruang interaksi langsung dengan masyarakat. Kami ingin setiap aspirasi, keluhan, dan usulan pembangunan benar-benar terakomodasi dan diperjuangkan melalui pembahasan di DPRD,” ujarnya.


Menurut Arlon, seluruh aspirasi yang diterima akan dikawal melalui mekanisme pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD sebagai bagian dari proses penyusunan program pembangunan oleh organisasi perangkat daerah (OPD).


Di tengah dinamika politik yang kerap menghadirkan perbedaan, Arlon juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari perpecahan di lingkungan masyarakat.


“Perbedaan adalah bagian dari demokrasi, tetapi persatuan harus tetap menjadi fondasi dalam membangun lingkungan yang lebih baik. Amanah ini akan saya jalankan dengan penuh tanggung jawab,” katanya.


Kehadiran Arlon Veristo disambut antusias oleh warga dengan iringan kompang dan tarian persembahan Minang. Sambutan itu bukan semata bentuk penghormatan, melainkan cermin dari harapan bahwa pembangunan dapat terus bergerak, dan bahwa aspirasi yang disampaikan malam itu tidak akan berhenti sebagai catatan, melainkan menjadi langkah menuju perubahan.


Pada akhirnya, reses bukan hanya tentang mendengar. Ia adalah tentang kesediaan untuk mengingat, mengawal, dan mewujudkan. Karena demokrasi tidak selesai ketika rakyat berbicara, demokrasi baru mulai ketika suara itu diperjuangkan. (π‘―π’‚π’…π’Šπ’ˆπ’–π’”)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama